Selasa, 13 Oktober 2009

Filsafat Ilmu

.BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu, sehingga ilmu dapat menjawab beberapa persoalan baik secara ontologi epistemologi dan aksiologi. Dan isi dari pada makalah ini ialah problem-problem atau permasalahan yang terjadi dalam filsafat ilmu itu sendiri. Menurtut beberapa para ahli ada 6 problem / permasalahan mendasar dalam filsafat itu. Diantaranya yaitu:
1. Problem Epistemology tentang ilmu
2. Problem Metafisis tentang ilmu
3. Problem Logis tentang ilmu
4. Problem Etis tentang ilmu
5. Problem Etesis tentang ilmu
6. Problem Metodologi tentang ilmu
Meningkat terjadinya atau dengan munculnya problem-problem dalam filsafat ilmu sehingga mendorong penulisan makalah ini dengan judul Problem filsafat ilmu.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan pokok yang dibahas dalam makalah ini antara lain yakni:
1. Apakah yang menjadi problem-problem filsafat ilmu?
2. Apakah yang menyebabkan terjadinya problem tersebut?
3. Kapan terjadinya perbedaan pandangan dari para philosop?

BAB II
FILSAFAT ILMU
(PROBLEM FILSAFAT ILMU)
Menurut beberapa tokoh, ada enam problem dalam filsafat ilmu diantaranya yaitu:
1. Problem-problem Epistemologi tentang ilmu
2. Problem-problem Metafisis tentang ilmu
3. Problem-problem Logis tentang ilmu
4. Problem-problem Etis tentang ilu
5. Problem-problem Etesis tentang ilmu
6. Problem-problem Metodologi tentang ilmu

1. Problem Epistemologi dan metodologi
Di tengah maraknya kemajuan technoscience yang sangat spektakuler masalah landasan epistemology dalam metodologis mempunyai kedudukan yang sentral dan strategis. Auguste Comte dan Karl Raimund Popper adalah dua sosok filsuf besar. Auguste hidup pada di abad ke-19 mengalami langsung revolusi Prancis dengan segala akibatnya positivisme merupakan aliran produk pemikirannya kemudian diabad ke-20 dikembangkan oleh kelompok Wina dengan aliran Neo-Positifime.
Sedangkan Popper ialah filsuf konteporer. Falsifikasionisme merupakan aliran yang dilahirnya sebagai jawaban atas problem-problem epistemology, filsafat, ilmu, sosial, politik sejarah dan metodologi.
Dan yang menjadi problem /permasalahannya disini ialah masalah perolehan pengetahuan yang selanjutnya melahirkan aliran rasionalisme dan empirisme yang pada gilirannya melahirkan aliran kritisme sebagai alternatif dan solusi terhadap pertikaian dari dua aliran tersebut. Popper tampil diantara pertikaian tersebut dengan aliran falsifikasionisme yang bertumpu diatas landasan epistemology rasionalisme kritis dan empirisme-kritis.
Pendekatan hubungan antara epistemology dengan metodologi tanpa bila dikaitkan dengan pandangan protaguras. Yang menyatakan bahwa “didalam segala hal manusia adalah menjadi tokoh ulur”. Epistemology oleh Popper dianggap sebagai teori ilmu pengetahuan dan metodologi akan menentukan proses dan produk ilmiah konflik metodologi akan tampak bila dikaitkan dengan jenis ilmu yakni natural-sciences, ilmu sosial, ilmu budaya, dan lain-lain. Persoalannya adalah apakah ilmu-ilmu sosial, budaya dapat menggunakan metode yang dipakai oleh ilmu pengetahuan alam.

LATAR BELAKANG PEMIKIRAN KARL RAIMUND POPPER DAN AUGUSTE COMTE
Latar belakang pemikiran Augustus ialah dipengaruhi oleh terjadinya perang revolusi Prancis pada abad ke-19 yang dimana ia mengalaminya secara langsung akibat-akibat dari revolusi tersebut. Terutama bidang-bidang sosial, ekonomi, politik dan pendidikan. Pengalaman pahit yang dialaminya ini memotivasi dirinya untuk memberikan alternatif dan solusi ilmiah filosofis.
Berbeda dengan Popper yang hidup diabad ke-20 yakni abad yang diawali oleh konflik sosial secara terbuka yaitu dengan terjadinya perang 1 dan 2. Namun dilihat dari sudut pendidikan Popper lebih beruntung dibanding Auguste, karena ia dapat mencapai jenjang tertinggi yakni Doktor dibanding filsafat. Namun keduanya mempunyai kesukaan ilmu yang sama yakni MAT dan Fisika teoritis, hanya saja Popper lebih menguasai secara mendalam ilmu pengetahuan alam modern.

FALSIFIKASIONISME DAN POSITIVISME
Dasar pemikaran Auguste diperoleh secara inspiratif dan Saint Simon, Charles Darwin. Kata rasional bagi Auguste terkait dengan masalah yang bersifat emperik dan positif yakni bpengetahuan yang diperoleh melalui observasi, ekpermentas komparasi, generalisasi karena itu maka bagi positifisme tuntutan utama adalah pengetahuan factual yang dialami oleh subjek dan disini metode yang di gunakan ialah “indukatif-verifikatif.
Sementara Popper berpandangan bahwa rasion identik dengan kata intelektual yang tidak bertentangan dengan irrasionalisme tetapi bertentangan dengan empirisme, karena itu dalam arti luas Rasionalisme mencakup intelektual dan empirisme. Bentuk metodologi yang ia pakai ialah “deduktif-falsifikatif dengan realisasi metodologinya”.
Menurut pandangan Popper Relatifisme sama sekali tidak mengakui bahwa manusia mampu menangkap dan menyimpan kebenaran. Namun bagi manusia, kebenaran selalu bersifat sementara karena selalu harus dihadapkan dengan pengujian. Ada sesuatu yang ada dalam pemikiran Popper yakni adanya campakan terhadap metafisika, justru ia mengakui kebenaran metafisika. Namun hal ini ditentang oleh Auguste yang beranggapan bahwa metafisika sebagai omong -kosong.
 Dari uraian di atas ada beberapa hal yang menunjukkan kekuatan kelemahan pemikiran kedua filsus tersebut,diantaranya latar belakang filsafat di mana mereka hidup yakni akibat dari revolusi Prancis dan perang dunia petama dan kedua menumbuhkan pemkiran mereka yang orisinal dan aktual sekaligus petunjuk kekuatan berfikir mereka
Sedangkan kelemahannya terbentuk pada teradisi berpikir filosof dimana setiap alternatif dan sosial yang timbul setiap problem selalu menibulkan problem yang baru .maka positifisme dan faksifikasionalisme merupakan karya berfikir menumental orisinal dan actual kedau filsuf tersebut.
Kemampuan Popper memunculkan problem dan kebenaran tentative sebagai esensi-subtansial dalam dunia kefilsafatan dan keilmuan menunjukkan kekuatan berfikirnya sekaligus kelemahannya yakni membuatnya terjebak dalam dunia Relativisme dan begitu juga dengan Auguste Comte.
2. Problem-problen Etika Ilmu Pengetahuan
Problem etika ilmu pengetahuan disini yakni menyangkut bagaimana penerapan dari pada ilmu pengetahuan dan teknologi apa yang seharusnya dikerjakan/tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan dan martabat manusia. Dan disinilah tanggung jawab etis bagi penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi karena kedua hal tersebut mempunyai pengaruh pada proses perkembangan.
3. Problem-problem etis tentang ilmu
Adapun persoalan atau problem dalam estetis ini antara lain:
- Pengertian dari estetika
- Munculnya teori-teori tentang estetika
- Munculnya bagian-bagian baru dalam estetika
a. Pengertian Estetika
Dalam memberikan pengetian yang tepat tentang estetika disini memunculkan masalah atau problem-problem dari pada filsuf, kerena mempunyai pendapat dan pandangan yang berbeda. Bahkan perbandingan ini sudah sangat lama menjadi suatu masalah yang memberikan jawaban-jawaban yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan dari berlainannya sasaran yang dikemukakan.
Selain persoalan atau problem-problem diatas, masalah lain yang menjadi problem dalam filsafat ilmu adalah munculnya sikap-sikap pro dan kontra dari para tokoh-tokoh terkemuka tarhadap ahli-ahli filusufi. Dan salah satu contohnya disini adalah sikap pro dan kontra yang muncul dari tokoh-tokoh terhadap imam Al-Ghozali. Memang mayoritas umat islam telah terbawa hanyaut oleh pandangan bahwa al-gazali sebagai hujjatul islam. Namun sekarang al-gazali telah muncul tokoh-tokoh yang telah mengkritik terhadap imam Al-Gazali antaranya :
- Al-Alamah Abu Bakar at-Therthurusyi Almasik
- Imam Abu Abdullah Al-Mazali al-Maliki
- Imam Taqiyyuddin Ibnu Shalab
Masing-masing dari mereka mempunyai pandangan yang berbeda tentang Imam Al-Ghazali.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari isi makalah di atas dapat kita simpulkan bahwa dari hasil usaha manusia untuk mencari hasi kebenaran (ilmu filsafat) dengan menggunakan metode yang berbeda dan dari hasil pengamatan atau observasi, menghasilkan suatu persoalan atau problem. Terutama munculnya suatu pandangan yang berbeda. Karena sama-sama mepertahankan pendapat masing-masing yang telah diperoleh melalui pengamatan atau empiris masing-masing. Dan salah satu contohnya adalah antara filsuf auguste comte dan Papper yang mempunyai pandangan dan metode yang berbeda dalam epistemologi.

DAFTAR FUSTAKA
Surajiyo. 2005. ILMU FILSAFAT SUATU PENGANTAR. Jakarta: PT.Bumi Aksara
Qardhawi, Yusuf. 1997. Al-Ghazali Antam Pro dan Kontra. Surabaya: Pustaka Progressif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar